Bab 3. Kajian Teknis

Bab 2. Kajian Kebutuhan dan Kepatuhan
22/09/2017
Bab 4. Kajian Ekonomi dan Komersial
22/09/2017

Kondisi Eksisting

Umumnya, prastudi kelayakan merupakan studi yang dilakukan untuk menentukan lokasi terbaik dari suatu set alternatif pilihan lokasi dalam rangka pembangunan prasarana kereta api (KA) baru. Namun, pada pelaksanaannya, tidak tertutup kemungkinan berupa pengembangan prasarana kereta api eksisting. Oleh karena itu, sub-bab mengenai kondisi eksisting merupakan subbab yang berisikan penjelasan mengenai kondisi saat ini dari tiap-tiap alternatif lokasi transportasi perkotaan baik alternatif lokasi yang telah memiliki prasarana KA eksisting maupun tidak.

  • Tatanan Perkeretaapian
    Identifikasi terhadap tatanan perkeretaapian sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan dalam PM 43 Tahun 2011 tentang Rencana Induk Perkeretaapian Nasional.
  • Rencana Induk Jaringan Moda Transportasi Sekitar
    Menjelaskan mengenai identifikasi terhadap jaringan moda transportasi yang ada disekitar alternatif lokasi beserta dengan hubungannya terhadap rencana pengembangan angkutan massal berbasis rel baru ini.
  • Asal Tujuan Transportasi
    Subbab ini berisi mengenai daerah asal dari angkutan eksisting yang dilayani beserta dengan daerah tujuannya, untuk prakiraan jumlah perpindahan penumpang dalam kawasan perkotaan tersebut.
  • Kondisi Sosio-ekonomi
    Kondisi sosioekonomi merupakan faktor penting untuk meninjau potensi perkembangan angkutan massal ini. Beberapa kondisi sosioekonomi yang perlu ditinjau antara lain adalah:

    • Populasi penduduk
    • Pola pertumbuhan penduduk
    • Proyeksi penduduk
    • PDRB
    • Pola pertumbuhan PDRB
    • Proyeksi PDRB
    • Tinjauan terhadap kondisi-kondisi sosioekonomi tersebut harus dilakukan untuk tiap-tiap alternatif lokasi.
  • Identifikasi Potensi Bencana
    Identifikasi daerah rawan bencana perlu dilakukan agar dapat mengenali dan mengantisipasi sejak dini potensi dampak bencana yang dapat menggannggu keberlangsungan transportasi perkeretaapian. Hal ini perlu dilakukan agar dapat meminimalkan resiko bencana karena biaya pembangunan infrastruktur perkeretaapian sangat mahal.

Tinjauan Tata Ruang

Tinjauan tata ruang berisikan mengenai kondisi eksisting tata ruang wilayah dari tiap-tiap alternatif lokasi infrastruktur kereta api tersebut meliputi:

  • Struktur tata ruang
  • Identifikasi titik-titik pusat kegiatan
  • Sistem jaringan transportasi
  • PDRB
  • Rencana pengembangan
  • Wilayah-wilayah konservasi/khusus

Aspek Transportasi

Mengkaji rencana aksesibilitas terhadap lokasi proyek KPBU, dilihat dari aspek Kondisi lalu lintas dan moda pendukung lainnya.

  • Kondisi Lalu Lintas
    Kajian terhadap kondisi lalu lintas dilakukan untuk mengidentifikasi Volume dan komposisi lalu lintas di sekitar koridor rencana jalur kereta api. Kajian meliputi kondisi geometrik, lalu lintas, manajemen lalu lintas, dan lain-lain.
  • Indikator Lalu Lintas
    Indikator yang digunakan untuk mengukur kinerja lalu lintas bergantung pada tipe analisis yang digunakan. Secara umum indikator kinerja lalu lintas yang digunakan dapat dilihat pada tabel berikut.
  • Survei Transportasi
    Pada dasarnya survei transportasi dilakukan sesuai dengan kebutuhan analisis. Namun, pada umumnya survei yang harus dilakukan adalah survei Traffic Counting (TC). Survei TC membahas mengenai:

    • Titik survei
    • Waktu pelaksanaan survei
    • Jenis/golongan kendaraan yang di-survei
    • Fluktuasi lalu lintas
    • Lalu lintas jam puncak
  • Kinerja Lalu Lintas
    Subbab ini menjelaskan mengenai perbandingan kinerja lalu lintas terhadap masing-masing alternatif lokasi jalur kereta api. Ukuran perbandingan adalah manfaat yang diperoleh dari suatu alternatif lokasi terhadap alternatif lokasi lainnya. Ukuran perbandingan yang digunakan adalah:

    • Penghematan waktu tempuh
    • Penghematan Biaya Operasi Kendaraan (BOK)
  • Perkiraan Permintaan Transportasi (Demand Forecast)
    Salah satu faktor yang menentukan optimasi penggunaan armada angkutan kereta api adalah karakteristik dari permintaan transportasi (transportation demand). Oleh karena itu untuk melakukan perencanaan transportasi khususnya berkaitan dengan penggunaan armada angkutan kereta api pengetahuan tentang permintaan transportasi masa mendatang sangat penting. Langkah yang ditempuh untuk mengetahui permintaan transportasi masa mendatang adalah dengan melakukan peramalan permintaan transportasi (transportation demand forecasting) berdasarkan data sekunder perjalanan penumpang dan kendaraan yang lalu. Beberapa teknik peramalan telah dikembangkan, di mana terbagi dalam dua katagori utama, yaitu: metoda kuantitatif dan metoda kualitatif (teknologis).
    Metoda kuantitatif dapat dibagi dalam metoda deret berkala (time series) dan metoda regresi berganda (kasual). Sedangkan metoda kualitatif dapat dibagi dalam metoda eksploratoris dan metoda normatif.

Aspek Fisik

  1. Analisa Teknis
    1. Potensi angkutan
      • Perkiraan jumlah pengguna jasa.
      • Pertumbuhan perekonomian.
      • Pola pergerakan asal tujuan orang dan/atau barang
    2. Pola operasi
      • Perkiraan volume turun/naik penumpang di setiap stasiun (loading profile).
      • Rencana kebutuhan sarana perkeretaapian yang akan dioperasikan.
      • Rencana jumlah dan kelas jalur yang akan dibangun.
      • Rencana lokasi dan jenis stasiun.
      • Tata letak dan kebutuhan jalur di stasiun.Sistem persinyalan dan hubungan blok.
      • Waktu tempuh, frekuensi, dan headway kereta api.
      • Kecepatan maksimum sarana dan prasarana.
      • Kebutuhan lahan
      • Keterpaduan inter dan antar moda, harus memperhatikan keberadaan moda transportasi kereta api dan moda transportasi lainnya.
      • Dampak sosial dan lingkungan; memperhatikan dampak sosial terhadap masyarakat; dan dampak terhadap Iingkungan sekitar.
      • Panjang jalur kereta api.
      • Jenis konstruksi jalan rel (at grade, elevated, underground).
      • Kondisi geografi dan topografi
      • Kondisi fisik tanah
      • Kondisi geografi dan topografi
      • Kelandaian maksimum
      • Perpotongan
  2. Pemilihan lokasi rute jalur kereta api terbaik
    Pemilihan lokasi mempertimbangkan seluruh aspek yang telah dibahas pada subbab-subbab sebelumnya. Pemilihan lokasi ini dilakukan untuk menentukan lokasi rute jalur kereta api terbaik dari suatu set alternatif lokasi prasarana kereta api yang terdiri dari trase jalur kereta api, stasiun, dan fasilitas operasi kereta api.

    Pendekatan model   dimulai  dengan menetapkan sistem zona  dan  jaringan jalan, termasuk  karakteristik  populasi  di  setiap  zona untuk kemudian  diestimasi  total perjalanan yang  dibangkitkan dan/atau yang  ditarik  oleh  suatu zona  tertentu (trip ends)  atau disebut dengan proses bangkitan perjalanan (trip generation).
    Selanjutnya  diprediksi  dari/kemana  tujuan  perjalanan  yang   dibangkitkan  atau yang  ditarik  oleh  suatu zona  tertentu atau disebut tahap distribusi perjalanan (trip distribution).  Dalam   tahap ini  akan   dihasilkan  Matriks  Asal-Tujuan  (MAT) yang kemudian dialokasikan sesuai dengan   moda   transportasi   yang    digunakan   para   pelaku   perjalanan   untuk mencapai tujuan perjalanannya. Dalam tahap ini dihasilkan MAT per  moda.
    Terakhir,  pada tahap pembebanan (trip assignment)  MAT didistribusikan  ke  ruas- ruas  jalan  yang  tersedia  di dalam  jaringan  jalan  sesuai  dengan kinerja  rute  yang ada. Tahap ini menghasilkan estimasi arus  lalulintas di setiap ruas  jalan  yang  akan menjadi dasar dalam melakukan analisis  kinerja.
    Secara garis besar proses analisis transportasi terdiri  : penetapan wilayah studi, analisis  sistem jaringan, analisis  kebutuhan pergerakan dan  analisis  sistem pergerakan.
    Selanjutnya dari set alternatif lokasi dilakukan pembobotan untuk memilih lokasi terbaik yang dapat dilakukan dengan analisis multikriteria.
  3. Penentuan Kriteria Kriteria ditentukan berdasarkan aspek-aspek:
    • Tata ruang
    • Aspek Transportasi
    • Teknis
  4. Pembobotan Kriteria
    Pembobotan dilakukan oleh seluruh stakeholder terkait seperti regulator, operator, dan user.
  5. Analisis Multikriteria
    Analisis multikriteria dilakukan dengan melakukan skoring terhadap masing-masing alternatif lokasi prasarana kereta api berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan sebelumnya.
  6. Pemilihan Jenis Moda Kereta Api Perkotaan
    Pemilihan moda kereta api perkotaan mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut:

    • Rencana induk Perkeretaapian
    • Jumlah penumpang
    • Teknis
    • Alinyemen
    • Integrasi antar moda
    • Kecepatan
    • Biaya CAPEX dan OPEX
  7. Gambar Rencana Prasarana Kereta Api
    Gambar rencana prasarana kereta api paling sedikit memuat:

    • Titik-titik koordinat, untuk mengidentifikasi lokasi-lokasi sebagai berikut:
      • Stasiun, depo, balai yasa dan bangunan pendukung lainnya
      • As rencana jalur kereta api- Jembatan dan terowongan
      • Patok referensi (bench mark); dan
      • Penyelidikan tanah
    • Lokasi stasiun, harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
      • Potensi angkutan berupa pergerakan penumpang dan/atau barang
      • Pengoperasian kereta api- Kepentingan pelayanan
      • Keterpaduan dengan moda transportasi lain
      • Kondisi geografis
    • Rencana kebutuhan lahan, meliputi:
      • Luas lahan yang akan dibebaskan
      • Tata guna lahan
        Rencana kebutuhan lahan didasarkan atas penentuan (1) kebutuhan stasiun, depo, balai yasa, fasilitas operasi, dan bangunan pendukung lainnya; (2) jalur kereta api yang meliputi ruang manfaat jalur dan ruang milik jalur.
    • Skala gambar
      • Menggunakan besaran tertentu sehingga semua gambar dan notasinya dapat terbaca dengan jelas
      • Menggunakan sistem skala batang (bar scale) dan/atau skala angka
      • Menggunakan skala gambar 1:5000 atau yang lebih besar
    • Gambar Rencana
      • Rencana layout prasarana kereta api untuk tiap-tiap alternatif lokasi disajikan dalam gambar teknik.

Spesifikasi Keluaran

Beberapa spesifikasi keluaran yang dapat digunakan diantaranya adalah seperti pada tabel di bawah ini.

Jadwal Pelaksanaan Konstruksi

Menguraikan jadwal pelaksanaan konstruksi dan pengadaan peralatan yang akan dilakukan.