Bab 3. Kajian Teknis

Bab 2. Kajian Kebutuhan dan Kepatuhan
04/12/2017
Bab 4. Kajian Ekonomi dan Komersial
04/12/2017

Lokasi Rumah Sakit

  • Kondisi Geografis
    Penentuan letak geografis lokasi proyek sangat penting dan strategis. Hal ini karena berkaitan dengan unit ekonomi dari fasilitas yang akan dibangun baik ditinjau dari segi teknis konstruksi (perencanaan kostruksi seperti kondisi tanah, iklim/lingkungan dan gempa bumi) maupun kelangsungan operasional dari proyek tersebut di masa yang akan datang.
  • Kegiatan dan Utilitas Sekitar
    Berbagai macam perusahaan atau industri memilih menempatkan fasilitas produksinya di dekat area pemasaran/ konsumen. Fasilitas seperti rumah sakit, kantor pos dan mall akan selalu memilih lokasi dekat dengan calon konsumen. Kriteria pemilihan lokasi dititikberatkan kepada sarana perhubungan, listrik, transportasi, penyediaan air bersih, pembuangan limbah bebas banjir, rencana pengembangan wilayah di masa depan dan lainnya. Harga tanah yang terjangkau juga menjadi pertimbangan.
  • Lain-lain
    Faktor lain yang perlu dijelaskan dalam penentuan lokasi proyek adalah lingkungan hidup, kemajuan daerah disekitarnya, sikap masyarakat (penerimaan masyarakat terhadap proyek/ fasilitas yang akan dibangun), Peraturan daerah dan pusat serta pajak.
  • Ijin Lokasi
    Kajian dilakukan terhadap status lahan, apakah sudah punya sertifikat, ijin lokasi atau masih dalam tahap penyiapan. Bila masih pada tahap pengajuan maka perlu diuraikan posisi pengajuan saat ini, kendala pengajuan dan rencana waktu keluarnya ijin tersebut. Bila melakukan renovasi dan penambahan terhadap rumah sakit yang telah ada maka perlu diketahui status IMB-nya.
  • Hal Penting Penetapan Lokasi
    Beberapa hal penting dalam penetapan lokasi diantaranya meliputi:

    • Ketersediaan lahan yang memadai, tergantung dari ukuran rumah sakit dan rencana pengembangan di masa mendatang.
    • Perhitungan kasar kebutuhan lahan:
      • 25 tempat tidur (TT) – 2 Hektarare (Ha);
      • 100 TT – 6 Ha;
      • 200 TT – 10 Ha;
      • 500 TT – 20 Ha;
      • 750 TT – 32 Ha.
    • Memiliki akses jalan yang baik.
    • Kondisi tanah yang memadai untuk konstruksi.
    • Sistem drainase air hujan yang baik.
    • Kualitas air tanah yang baik.

Tipe dan Fungsi Rumah Sakit

Kajian kepatuhan ini bertujuan untuk melihat kesesuaian rencana penyediaan atau pengelolaan fasilitas kesehatan dengan rencana-rencana, program-program, dan kebijakan-kebijakan pemerintah yang ada.

Beberapa rencana yang perlu dikaji kesesuaiannya antara lain dijabarkan dalam sub-bab berikut.

  • Klasifikasi Rumah Sakit
    Menguraikan tipe atau klasifikasi rumah sakit (misalnya rumah sakit tipe A, B, C atau D) disertai dengan penjelasan mengenai alasan menerapkan tipe tersebut. Tipe rumah sakit ini akan mengacu pada Permenkes RI No. 340 tahun 2010 tentang Klasifikasi Rumah Sakit.
  • Fungsi Rumah Sakit
    Menguraikan fungsi-fungsi khusus dari rumah sakit tersebut, seperti misalnya rumah sakit kanker, rumah sakit umum, rumah sakit ibu dan anak, dan sebagainya.
  • Pelayanan Rumah Sakit
    Menguraikan kegiatan pelayanan yang akan diberikan oleh rumah sakit tersebut, seperti misalnya pelayanan medis, pelayanan dan asuhan keperawatan, pelayanan penunjang medis dan non-medis, pelayanan kesehatan masyarakat, dan sebagainya. Menceritakan juga bagaimana kegiatan pelayanan ini memenuhi peraturan perundangan yang ada.

Kajian Unit Kerja Rumah Sakit

Kajian terhadap kebutuhan unit kerja rumah sakit sesuai dengan tipe rumah sakit yang akan dikerjasamakan. Secara garis besar, pengelompokan unit kerja di rumah sakit terdiri dari:

  • Rawat inap dewasa
  • Rawat inap anak/perinatal
  • Rawat inap intensif- Gawat Darurat (IGD)
  • Kamar Bersalin
  • Kamar Operasi
  • Rawat Jalan

Kajian jumlah kebutuhan dilakukan untuk setiap unit kerja yang ada, hal ini untuk melihat apakah kerjasama yang diusulkan dapat memenuhi kebutuhan pelayanan kesehatan.

Penilaian tingkat keberhasilan pelayanan rawat inap biasanya dilihat dari berbagai segi: (a) tingkat pemanfaatan sarana pelayanan, (b) mutu pelayanan dan (c) tingkat efisiensi pelayanan rawat inap.

Indikator yang digunakan meliputi: (1) Bed Occupancy Rate (BOR), (2) Average Length Of Stay (ALOS), (3) Bed Turn Over (BTO), (4) Turn Over Interval (TOI).

Jumlah tempat tidur dihitung sesuai dengan perkembangan nilai BOR, jumlah pertumbuhan penduduk dengan standar luas ruang perawatan rawat inap dimana: (1) Kamar VIP ± 21,5 M2/TT; (2) Kamar Kelas I ± 15 M2/TT; (3) Kamar Kelas II ± 10 M2/TT; dan (4) Kamar Kelas III ± 8 M2/TT.

Analisis Kebutuhan Tenaga Kesehatan dan Keperawatan

  • Kebutuhan Tenaga Kesehatan
    Kebutuhan dokter dan tenaga kesehatan lainnya harus memenuhi persyaratan sesuai dengan klasifikasi rumah sakitnya seperti tertuang dalam Permenkes RI No. 340 tahun 2010.
  • Kebutuhan Tenaga Keperawatan
    Mengkaji jumlah tenaga keperawatan yang dapat dihitung dengan menggunakan formula PPNI (Persatuan Perawat Nasional Indonesia), metode Douglas, atauapun sesuai dengan pedoman perhitungan kebutuhan perawat Departemen Kesehatan RI tahun 2005.

Analisis Kebutuhan Utilitas Pendukung

  • Sumber Tenaga Listrik
    Menguraikan kehandalan sumber tenaga listrik yang diusulkan, apakah total dari jaringan PLN saja atau dibantu dengan ketersediaan pembangkit listrik lainnya.
    Beberapa hal penting untuk ketersediaan tenaga listrik adalah:

    • Tersedia gardu listrik di dekat rumah sakit.
    • Tersedia suplai listrik 3 fase dengan daya yang mencukupi (1 kW/tempat tidur/hari).
    • Ada jaringan pasokan listrik khusus dari PLN.
    • Tersedia generator yang selalu siap sedia.
  • Sumber Air Bersih
    Menguraikan kehandalan sumber air bersih yang diusulkan, baik dari sisi kualitas, kuantitas, dan kontinuitas. Akan lebih baik apabila di lokasi rumah sakit terdapat sumber air tanah yang baik untuk digunakan sebagai cadangan. Air bersih harus tersedia dengan jumlah yang mencukupi. Perhitungan kasarnya 400 Liter/tempat tidur/hari.
  • Pengelolaan Air Limbah
    Menguraikan sistem pengelolaan air limbah yang diusulkan untuk melihat bahwa sistem yang diusulkan tidak akan membahayakan lingkungan dan buangan sesuai dengan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup No. 5 Tahun 2014 tentang Baku Mutu Air Limbah.
  • Pengelolaan Limbah Medis
    Menguraikan rencana pengelolaan limbah medis, untuk melihat bahwa sistem yang diusulkan tidak akan membahayakan lingkungan dan masyarakat sekitar.
  • Sistem Transportasi dan Komunikasi
    Menguraikan rencana sistem transportasi dan komunikasi. Secara garis besar sebaiknya seperti di bawah ini:

    • Lebih baik jika dekat dengan akses ke stasiun kereta atau terminal bis.
    • Tersedia layanan transportasi publik dan taksi selama 24 jam sehari.
    • Memiliki jaringan telepon atau internet yang handal.
    • Terdapat akses yang kuat ke tower transmisi komunikasi untuk menjamin komunikasi yang tidak terputus.