Bab 4. Kajian Teknis

Bab 3. Kajian Hukum dan Kelembagaan
26/11/2017
Bab 5. Kajian Ekonomi dan Finansial
26/11/2017

Kondisi Eksisting

  1. Kondisi Geografis Lokal
    Menguraikan kondisi geografis lokal secara umum wilayah kabupaten/kota sampai dengan kondisi geografis di rencana lokasi pengembangan Lapas XXX.
  2. Kondisi Fisik Alam
    Menguraikan kondisi fisik alam wilayah kabupaten/kota dan juga kondisi fisik alam di lokasi Lapas XXX, yang meliputi diantaranya topografi, kondisi geologis, rawan bencana dan sebagainya.
  3. Kondisi Sosial, Ekonomi dan Budaya
    Kondisi sosial ekonomi dan budaya merupakan salah satu faktor penting untuk melihat potensi pertumbuhan jumlah narapidana di wilayah tersebut. Beberapa kondisi sosial ekonomi yang perlu ditinjau antara lain :

    • Struktur penduduk menurut mata pencarian dan pendidikan
    • Tingkat kepadatan dan pertumbuhan penduduk sesuai data sensus BPS tahun terakhir
    • Tingkat pendapatan ekonomi rumah tangga
    • Tingkat kriminalitas
  4. Kondisi Pemasyarakatan
    Sub-bab kondisi eksisting ini ditujukan untuk menguraikan kondisi penyelenggaraan Lapas di wilayah perencanaan. Beberapa kondisi eksisting yang perlu diuraikan diantaranya meliputi:

    • Jumlah dan Lokasi Lapas
    • Aksesibilitas lokasi Lapas
    • Tingkat hunian Lapas
    • Rasio Jumlah Tahanan dari tahun ke tahun di wilayah tersebut
    • Prosentase jenis WPB (misalnya berdasarkan usia, kejahatan, jenis kelamin, umur, pidana, narkoba, terorisme, dan sebagainya)
    • Kajian terhadap UPT Lapas (struktur organisasi, status pegawai, dan sebagainya)
    • Kerjasama Pihak Lain à menguraikan berbagai lembaga yang bekerjasama dengan Lapas dalam melakukan pembinaan, misalnya dinas pendidikan, kepolisian, institusi keagamaan, dan lain-lain.
  5. Kondisi Sarana dan Prasarana Lapas
    • Kondisi sarana gedung pemasyarakatan, termasuk didalamnya kondisi gedung portir dan kunjungan, gedung blok hunian (jumlah kapasitas daya tampung warga binaan serta kondisinya), bangunan prasarana (pagar, tembok pagar antar bangunan, pengerasan jalan lingkungan), ketersediaan utilitas, dan sebagainya.
    • Kondisi sarana pembinaan narapidana (sarana pendidikan keterampilan untuk WPB, jenis pembinaan, pelayanan kesehatan, proses pembinaan narapidana, dan sebagainya).
    • Kondisi petugas pembinaan (tingkat pendidikan, pelatihan yang pernah ada, dan sebagainya)

Tinjauan Tata Ruang

Tinjauan tata ruang berisikan mengenai kondisi eksisting tata ruang wilayah kabupaten/kota bersangkutan dan juga secara lebih mendetail di rencana lokasi Lapas XXX yang akan dikerjasamakan. Tinjauan tersebut meliputi:

  • Struktur tata ruang
  • Rencana detil tata ruang
  • Peraturan zonasi
  • Rencana pengembangan wilayah

Dalam kajian ini perlu disimpulkan bagaimana kesesuaian lokasi Lapas XXX yang akan dikerjasamakan dengan perencanaan tata ruang di wilayah tersebut. Hal yang sangat perlu dikaji adalah rencana pengembangan fungsi wilayah di lokasi Lapas XXX.

Aspek Utilitas

Pada bagian ini diuraikan mengenai kondisi utilitas di wilayah kabupaten/kota bersangkutan secara umum dan juga kondisi utilitas di lokasi Lapas XXX. Kajian tersebut meliputi:

  1. Sumber Tenaga Listrik
    Menguraikan ketersediaan pasokan listrik secara umum dan juga di wilayah lokasi Lapas XXX, sehingga dapat disimpulkan kesiapan utilitas listrik untuk pengembangan fasilitas Lapas XXX.
  2. Sumber Air Bersih
    Menguraikan sumber air bersih yang digunakan oleh masyarakat secara umum, termasuk juga cakupan lokasi pelayanan air minum perpipaan yang ada. Akan sangat baik jika disampaikan dalam bentuk peta layanan. Perlu diketahui apakah terdapat layanan SPAM perpipaan di lokasi Lapas XXX.
  3. Pengelolaan Limbah
    Menguraikan sistem pengelolaan limbah cair dan limbah padat yang saat ini berlangsung di wilayah perencanaan, termasuk juga cakupan pelayanan, sistem pengelolaan, sistem pembuangan limbah, dan sebagainya.  Nantinya akan dikaitkan dengan sistem pengelolaan limbah cair dan limbah pada di Lapas XXX.
  4. Sistem Transportasi
    Menguraikan sistem transportasi yang tersedia dil wilayah perencanaan, termasuk didalamnya sistem transportasi berupa angkutan kota, bis, MRT, LRT, dan sebagainya bila ada. Hal ini untuk melihat kemudahan transportasi bagi keluarga WBP untuk melakukan kunjungan ke Lapas XXX.

Kajian Kebutuhan

Dalam sub-bab diuraikan kebutuhan akan infrastruktur fasilitas Lapas berdasarkan kondisi tingkat hunian saat ini dan juga kecenderungan peningkatan jumlah WBP sesuai dengan kecenderungan peningkatan hunian Lapas selama beberapa tahun terakhir.

  1. Potensi Pertumbuhan WBP
    Menjelaskan tentang potensi pertumbuhan jumlah WBP yang perlu diakomodasi oleh Lapas.
  2. Kebutuhan Fasilitas
    Bagian ini menjelaskan tentang kebutuhan fasilitas pembinaan di dalam Lapas XXX yang dibutuhkan berdasarkan perhitungan potensi pertumbuhan di bagian atas.
  3. Dukungan Masyarakat dan Dunia Usaha
    Menjelaskan tentang adanya dukungan masyarakat dan dunia usaha/industri terhadap kebutuhan adanya Lapas XXX.

Rancang Bangun Awal

Dalam sub-bab ini akan diuraikan rancang bangun awal infrastruktur Lapas XXX yang akan dikerjasamakan, mulai dari desain sampai dengan serah terima aset. Hal-hal yang perlu dikaji dan diuraikan dalam sub-bab ini adalah seperti di bawah ini.

  1. Klasifikasi Lapas
    Pada bagian ini menceritakan klasifikasi atau kategori Lapas XXX. Lapas diklasifikasikan atas 3 (tiga) tipe:

    1. Lapas Kelas I : kapasaitas hunian standar ≥ 1500 orang
    2. Lapas Kelas II A : kapasitas hunian standar ≥ 500 – 1500 orang
    3. Lapas Kelas II B : kapasitas hunian standar ≤ 500 orang
    4. Lapas Kelas III
      Klasifikasi tersebut di dasarkan atas kapasitas hunian atau daya tampung narapidana dan juga berdasarkan tempat kedudukan dan kegiatan kerja petugas lapas (berdasarkan struktur organisasi yang berbeda –beda).
      Selain itu juga perlu diuraikan Lapas Kabupaten/Kota XXXX sebagai Lapas Terbuka atau Lapas Tertutup.
  2. Lokasi Lapas XXX
    Pada bagian ini diuraikan tentang lokasi Lapas XXX secara detail, termasuk peta lokasi. Dijelaskan juga mengenai pemilihan lokasi dengan mempertimbangkan ketentuan dan pertimbangan-pertimbangan lainnya seperti:

    • Mengacu pada Peraturan Daerah tentang RTRW Kabupaten/Kota;
    • Mengacu pada peraturan zonasi;
    • Keamanan lingkungan sekitar Lapas;
    • Jarak dengan permukiman penduduk dan/atau pusat kegiatan ekonomi masyarakat;
    • Ketersediaan moda transportasi bagi pengunjung;
    • Dan/atau lainnya.
    • Jika diberikan lokasi Lapas XXX belum ditetapkan dan diberikan beberapa alternatif lokasi, maka dilakukan pembobotan untuk memilih lokasi terbaik yang dapat dilakukan dengan analisis multikriteria. Kegiatan tersebut meliputi:
      1. Penentuan Kriteria
        Kriteria yang sebaiknya dipenuhi dalam menentukan lokasi lembaga pemasyarakatan adalah sebagai berikut:

        • Zoning (peruntukan lahan)
        • Fisik (physical features)
        • Utilitas
        • Transportasi
        • Parkir
        • Dampak lingkungan (sosial dan alam)
        • Pelayanan publik
        • Penerimaan/respon masyarakat (termasuk perubahan perilaku)
        • Permintaan dan penawaran (pertumbuhan penduduk, penyerapan tenaga kerja, distribusi pendapatan)
        • Kedekatan dengan pusat kota
        • Ketersediaan tenaga listrik dan air
        • Iklim
        • Ketersediaan modal
        • Perlindungan terhadap kebakaran, perlindungan polisi, pelayanan kesehatan
        • Perumahan/permukiman penduduk
        • Peraturan setempat
        • Pertumbuhan kota di masa yang akan datang.
      2. Pembobotan Kriteria
        Pembobotan dilakukan oleh seluruh stakeholder terkait seperti regulator, operator, dan user.
      3. Analisis Multikriteria
        Analisis multikriteria dilakukan dengan melakukan skoring terhadap masing-masing alternatif lokasi lembaga pemasyarakatan berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan sebelumnya.
  3. Sarana Gedung Pemasyarakatan
    Pada bagian ini diuraikan konsep desain bangunan Lapas XXX. Konsep ini perlu disertai dengan gambar-gambar dan layout dari sarana gedung pemasyarakatan tersebut.  Diharapkan bahwa konstruksi bangunan gedung Lapas ini dirancang untuk ramah lingkungan seperti misalnya:

    • Peralatan
      Penggunaan peralatan yang tidak berlebihan dan sesuai prosposional, sehingga fungsi bangunan menjadi lebih optimal dan lebih ramah lingkungan.
    • Kontrol Polusi Air dan Limbah
      Disediakan kontrol air untuk mengantisipasi terjadinya polusi air yang diakibatkan oleh aktivitas di dalam Lapas.
    • Kontrol Polusi Udara
      Kebutuhan udara segar bagi WBP yang ada didalam lembaga pemasyarakatan juga telah disiapkan rancangan yang lebih maksimal. Hal ini untuk menjaga kesehatan WBP yang ada dalam Lapas
    • Kontrol Polusi Suara
      Kelancaran komunikasi antara petugas dan warga binaan perlu dipastikan berjalan dengan lancar. Sehingga konstruksi bangunan juga perlu dirancang agar suara-suara bising tidak terjadi. Perlu dilengkapi dengan fasilitas yang mampu memberi kelancaran pada suara – suara yang dapat mengganggu komunikasi antara petugas lapas dengan warga binaan atau dengan berbagai pihak di dalam lapas..
    • Dampak Ekologis
      Keseimbangan antara keberadaan Lapas dengan lingkungan sekitar juga perlu dijaga. Misalnya kawasan Lapas selama ini adalah menjadi langganan banjir apabila intensitas hujan dikawasan adalah tinggi. Sehingga bangunan Lapas didesain lebih tinggi serta dengan tetap memperhatikan lingkungan pendukung disekitarnya..
    • Pemakaian Energi
      Bangunan di desain dengan memberikan akses sinar matahari masuk kedalam Lapas. Hal ini dimaksudkan untuk menghemat penggunaan energi juga dari sisi kesehatan lebih terjamin, karena kuman – kuman serta berbagai sumber penyakit dapat diminimalisir oleh sinar matahari yang dapat menjangkau di hampir semua sudut bangunan.
    • Kajian yang perlu dilakukan dalam perancangan gedung pemasyarakatan diantaranya meliputi:
      • Perhitungan kebutuhan lahan dengan menggunakan standar-standar yang berlaku untuk setiap fasilitas (sel, kantor, ruang kunjungan, poliklinik, fasilitas umum dan keagaaman, utilitas, ruang terbukan hijau, dan sebagainya)
      • Konsep Tapak, termasuk sistem zoning (zona hunian dan zona non-hunian), pembagian zona keamanan (minimum security, medium security, atau maximum security), dan sebagainya.
      • Sirkulasi di dalam lapas (sirkulasi WBP, petugas, dan pengunjung)
      • Konsep pagar Lapas
      • Konsep pemantauan keamanan (sistem kamera pantau, sistem komunikasi, dan lain-lain)
      • Material bangunan yang akan digunakan yang juga mempertimbangkan kekuatan struktur selama periode kerjasama dan juga selanjutnya.
      • Rencana penyediaan utilitas (air bersih, pengelolaan limbah cair, pengelolaan limbah padat, hidran kebakaran, listrik dan lain-lain)
      • Pencahayaan dan sirkulasi udara yang cukup.
      • Bentuk bangunan lembaga pemasyarakatan selaras dengan karakteritis budaya daerah.
  4. Sistem Keamanan Lapas
    Pada bagian ini diuraikan sistem keamanan Lapas yang akan diterapkan, mencakup:

    • Perancangan Sistem Keamanan
    • Prinsip Sistem Keamanan Lapas
    • Persyaratan Umum Lapas Berkaitan dengan Kemanan
    • Dasar Perencanaan Bangunan Lapas
  5. Sarana Pembinaan
    Pada bagian ini diuraikan sarana pembinaan yang akan disediakan seperti misalnya sarana pendidikan, perpustakaan, bengkel pembinaan, fasilitas keagamaan, ruang terbuka hijau, dan lain-lain. Sarana pembinaan ini akan tergantung dari tipe Lapas yang akan dikerjasamakan.

Spesifikasi Keluaran

  1. Ruang Lingkup Kerjasama
    Pada bagian ini diuraikan mengenai ruang lingkup kerjasama yang akan dilakukan dalam skema KPBU ini. Misalnya, apakah proyek KPBU hanya akan menyediakan sarana gedung pemasyarakata, hanya menyediakan sarana pembinaan, atau menyediakan kedua-duanya, atau ada bagian lain dari pengelolaan Lapas.
  2. Standar Pelayanan Minimum
    Pada bagian ini diuraikan variabel spesifikasi keluaran yang harus dipenuhi oleh BUP selama masa kerjasama. Contoh dari standar pelayanan minimum untuk penyediaan fasilitas Lapas ini adalah seperti pada tabel di bawah ini.

    No Spesifikasi Teknis Keterangan
    1 Klasifikasi Lembaga Pemasyarakatan Kelas I/IIA/IIB/III
    2 Luas lahan M2
    3 Luas bangunan M2
    4 Jumlah Rencana Kapasitas Penghuni Warga Binaan Orang
    5 Jalan Akses M2
    6 Luas areal parkir M2
    7 Kesesuaian dengan RTRW setempat M2
    8 Biaya Konstruksi Rp
    9 Biaya Operasional dan pemeliharaan Rp
  3. Tahapan Pengembangan
    Pada bagian ini diuraikan rencana pengembangan atau konstruksi fasilitas Lapas yang akan dikerjasamakan dan juga rencana pengadaan peralatan (jika ada).
  4. Mitigasi Permasalahan
    Pada bagian ini diuraikan mengenai kemungkin permasalahan yang timbul selama masa konstruksi dan juga disampaikan strategi mitigasi untuk menangani permasalahan yang mungkin timbul tersebut.
  5. Spesifikasi Aset Saat Serah Terima
    Pada bagian ini diuraikan tentang spesifikasi atau kondisi aset yang dikerjasamakan yang harus dipenuhi pada saat serah terima aset tersebut disaat akhir masa kerjasama.