Bab 4. Kajian Teknis

Bab 3. Kajian Hukum dan Kelembagaan
27/11/2017
Bab 5. Kajian Ekonomi dan Komersil
27/11/2017

Penyediaan Air Minum Eksisting

Menjelaskan kondisi penyediaan air minum eksisting. Data-data yang digunakan dapat diambil dari dokumen-dokumen perencanaan yang ada (RTRW, RDTR, Jaktrada, dll) dan juga berdasarkan hasil Survei Kebutuhan Nyata (Real Demand Survey – RDS). Beberapa poin penting yang perlu diuraikan meliputi:

  1. Sumber Air Minum Eksisting
    1. Persentase sumber-sumber air minum masyarakat.
    2. Kondisi sumber air minum, mencakup kualitas, kuantitas, dan kontinuitas.
    3. Dan lainnya.
  2. Kondisi Pelayanan PDAM
    Kondisi pelayanan PDAM ini dapat diambil dari laporan Audit Kinerja PDAM terakhir.

    1. Persentase dan wilayah pelayanan.
    2. Tingkat kebocoran (NRW).
    3. Kapasitas tak terpakai (idle capacity).
    4. Jam pelayanan.

Unit Air Baku

Dalam kajian unit air baku, yang paling penting dilakukan adalah kajian terhadap kehandalan air baku dari segi kualitas, kuantitas, kontinuitas dan perijinannya. Selain itu juga perlu dilakukan kajian terhadap desain unit air baku yang telah ada.
Beberapa hal penting yang perlu ada dalam kajian unit baku adalah:

  1. Ketersediaan Air Baku
    Ketersediaan air baku harus dipastikan dengan adanya kajian neraca air dan alokasi penggunaan air dari sumber tersebut sesuai dengan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 22 Tahun 2009 tentang Pedoman Teknis dan Tata Cara Penyusunan Pola Pengelolaan Sumber Daya Air.
    Salah satu hal yang penting dilakukan adalah melakukan pertemuan formal dengan penyedia air baku, sehingga didapatkan hal-hal berikut:

    1. Informasi kapasitas sumber yang lebih akurat, masukan, tanggapan, koreksi, klarifikasi dan sanggahan terhadap hasil inventarisasi, identifikasi potensi dan permasalahan sumber daya air sesuai dengan harapan keinginan masyarakat serta badan usaha. Hasil ini perlu diikuti dengan dibuatnya Berita Acara pertemuan.
    2. Memastikan tata cara perijinan serta penetapan tarifnya yang mengacu pada Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Republik Indonesia Nomor 37/PRT/M/2015 tentang Izin Penggunaan Air dan/atau Sumber Air.
  2. Kajian Intake
    Beberapa hal yang perlu dikaji untuk rancangan intake (pengambilan air baku) meliputi:

    1. Kesesuaian lokasi intake dengan rencana tata ruang.
    2. Status ketersediaan lahan.
    3. Akses menuju lokasi intake.
    4. Layout dan rancangan intake.
    5. Kualitas air baku.
  3. Kriteria Desain Intake
    1. Kriteria desain intake ini tergantung dari jenis sumber air baku yang akan digunakan, apakah berupa sumber air permukaan, mata air, ataupun air tanah. Kajian perlu dilakukan terhadap bangunan sipil, sistem mekanikal dan elektrikal, serta rencana sistem pengoperasian dan pemeliharaannya secara umum.
    2. Perlu diulas juga lebih dalam mengenai sumber listrik yang akan digunakan sehingga akan diketahui keperluan infrastruktur listrik yang diperlukan dan juga sistem perizinan dan ketersediaan listrik yang diperlukan apabila akan menggunakan sumber listrik dari PLN.

Unit Transmisi

  1. Rencana panjang pipa transmisi dan wilayah-wilayah yang terlewati oleh pipa transmisi.
  2. Kendala pemasangan pipa transmisi terkait lahan dan perlintasan-perlintasan.
  3. Jenis pompa dan skematik sistem pemompaan air baku.

Unit Produksi (Instalasi Pengolahan Air – IPA)

Kajian yang perlu masuk dalam sub-bab ini meliputi:

  1. Lokasi IPA
    1. Kajian untuk melihat apakah IPA berada di satu lokasi yang sama dengan intake atau berbeda.
    2. Kesesuaian lokasi dengan fungsi tata ruang.
    3. Status ketersediaan lahan.
  2. Instalasi Pengolahan Air
    1. Kapasitas IPA rencana.
    2. Standar kualitas air yang diproduksi, mengacu pada Permenkes No 492 tahun 2010 tentang Persyaratan Kualitas Air Minum.
    3. Skematik sistem pengolahan air secara umum.
    4. Kriteria desain masing-masing unit pengolahan.
    5. Kriteria desain bangunan pendukung.
    6. Skematik dan desain instalasi pengolahan limbah lumpur.
  3. Kriteria Desain IPA
    1. Kriteria desain IPA ini meliputi sipil, sistem mekanikal dan elektrikal, serta rencana sistem pengoperasian dan pemeliharaannya secara umum. Standar komponen dan spesifikasi teknis dalam investasi di unit produksi per liter/detik menggunakan acuan berdasarkan Permen PU No 21 PRT 2009 tentang Pedoman Teknis Kelayakan Investasi Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum oleh PDAM yang dijelaskan pada Lampiran A.
    2. Perlu diulas juga lebih dalam mengenai sumber listrik yang akan digunakan sehingga akan diketahui keperluan infrastruktur listrik yang diperlukan dan juga sistem perizinan dan ketersediaan listrik yang diperlukan apabila akan menggunakan sumber listrik dari PLN.

Unit Distribusi

Sistem distribusi terdiri dari Jaringan Distribusi Utama (JDU), Jaringan Distribusi Sekunder (JDS), dan Jaringan Distribusi Tersier. Beberapa hal yang perlu dikaji meliputi:

  • Pertimbangan pemilihan jalur pipa didasarkan pada ketentuan syarat-syarat hidrolis, kondisi tanah, pembebasan lahan, faktor lingkungan dan sosial.
  • Panjang dan jenis pipa yang akan digunakan disertai peta JDU dan JDS.
  • Rencana sistem pendistribusian, misalnya sistem booster atau menara air.
  • Rencana tahapan pembangunan sistem distribusi.
  • Pada umumnya pipa akan tertanam pada badan jalan, hal ini dimaksudkan untuk menghindari pembebasan atau penyewaan
  • Kajian terhadap kesiapan perlintasan pipa melalui jalur-jalur transportasi seperti rel kereta api, jalan tol, ataupun sungai. Apabila jalur distribusi sejajar maupun melintang dengan sarana dan prasrana dari institusi lain yang diluar bidang air minum maka pemasangan pipa harus memperhatikan ketentuan-ketentuan yang berlaku pada institusi tersebut dengan memperhatikan ketepatan rancang bangun yang lebih efektif dan efisien.
  • Sistem zoning pelayanan yang dilengkapi dengan water meter induk distribusi dalam rangka mengendalikan kebocoran air.
  • Kualitas pipa pada sistem distribusi harus memenuhi spesifikasi pipa yang tergantung pada rencana penempatan dan pemasangan pipa. Spesifikasi pipa yang akan digunakan dapat dilihat pada Lampiran A.

Unit Pelayanan

Unit pelayanan adalah prasarana dan sarana untuk memberikan layanan air minum kepada pelanggan yang terdiri dari: (1) pipa retikulasi/service, (2) sambungan rumah, dan (3) hidran umum. Beberapa hal yang perlu dikaji adalah:

  • Menetapkan wilayah pelayanan proyek KPBUdan rencana sistem zoning yang akan diterapkan (jika ada).
  • Menetapkan rencana tahapan penyerapan air minum dan jumlah pemasangan sambungan rumah, disesuaikan dengan tahapan pembangunan jaringan distribusi.
  • Penetapan panjang pipa retikulasi untuk setiap sambungan rumah. Hal ini terkait dengan rencana investasi.
  • Rencana sistem pemantauan dan pengendalian jaringan.

Spesifikasi Keluaran

Spesifikasi keluaran menggambarkan output yang harus dipenuhi oleh Badan Usaha Pelaksana dalam penyediaan air minum. Kesepahaman dan persepsi yang sama antara PJPK dengan Badan Usaha yang akan melakukan kerjasama diperlukan untuk menjamin penyediaan air minum yang berkesinambungan dan sesuai target. Berikut ini adalah contoh spesifikasi keluaran yang harus ada dalam kerja sama pemerintah dengan badan usaha:

  1. Intake
    1. Jenis konstruksi sipil.
    2. Kapasitas pengambilan (L/detik).
  2. Instalasi Pengolahan Air (IPA)
    1. Jenis konstruksi sipil.
    2. Kapasitas pengolahan (L/det).
    3. Kapasitas produksi (L/det).
    4. Kehilangan air maksimal di IPA (%).
    5. Kualitas air olahan.
    6. Maksimum lamanya penghentian operasi untuk pemeliharaan ataupun karena sebab lainnya (hari dalam setahun).
  3. Sistem Distribusi
    1. Kehilangan air maksimal di sistem distribusi (%).
    2. Sistem pemantauan dan pengawasan yang diterapkan.
    3. Maksimum lamanya penghentian operasi untuk pemeliharaan ataupun karena sebab lainnya (hari dalam setahun).
    4. Kualitas air yang sampai di pelanggan.

Jadwal Pelaksanaan Konstruksi

Menguraikan jadwal pelaksanaan konstruksi dan pengadaan peralatan yang akan dilakukan.