Bab 8. Kajian Risiko

Bab 7. Kajian Bentuk KPBU
27/11/2017
Bab 9. Kajian Kebutuhan Dukungan Pemerintah dan/atau Jaminan Pemerintah
27/11/2017

Risiko adalah kemungkinan terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan selama kelangsungan suatu proyek. Risiko tersebut dapat dinilai secara kualitatif ataupun kuantitatif. Proses analisa risiko terdiri atas identifikasi risiko, alokasi risiko, penilaian risiko, dan mitigasi risiko. Tujuan analisa risiko adalah agar stakeholder dapat memperoleh manfaat finansial sebesar-besarnya melalui proses pengelolaan risiko yang meliputi menghilangkan, meminimalkan, mengalihkan, dan menyerap/menerima risiko tersebut.

Identifikasi Risiko

Identifikasi risiko dilakukan untuk mengetahui jenis risiko yang mungkin timbul di dalam proyek. Risiko-risiko spesifik untuk sektor PJU adalah risiko operasional (rusak atau hilangnya komponen PJU, tidak tersedianya pasokan energi yang dibutuhkan, tidak tersedia atau lambatnya penyediaan cadangan spare part), risiko desain (teknologi atau sistem tidak efisien), risiko jaringan (PLN tidak dapat menyediakan pasokan listrik yang memadai dan berkelanjutan (untuk sistem yang menggunakan teknologi listrik)).

Prinsip Alokasi Risiko

Dalam sub-bab ini diuraikan mengenai prinsip-prinsip alokasi risiko, dimana dalam pelaksanaan proyek KPBU, pendistribusian atau alokasi risiko harus dapat dilakukan secara optimal dengan cara mengalihkan risiko kepada pihak yang memang dapat mengelola risiko-risiko tersebut secara lebih efisien dan efektif.Prinsip alokasi risiko lazimnya adalah “Risiko sebaiknya dialokasikan kepada pihak yang relatif lebih mampu mengelolanya atau dikarenakan memiliki biaya terendah untuk menyerap risiko tersebut. Jika prinsip ini diterapkan dengan baik, diharapkan dapat menghasilkan premi risiko yang rendah dan biaya proyek yang lebih rendah sehingga berdampak positif bagi pemangku kepentingan proyek tersebut.Dalam transaksi proyek KPBU, penentuan kewajiban PJPK dalam Perjanjian Kerjasama (yang dilakukan setelah melakukan analisis risiko sebagai bagian dari studi kelayakan proyek) perlu memenuhi prinsip Alokasi Risiko. Upaya menghasilkan suatu skema alokasi risiko yang optimal penting demi memaksimalkan nilai manfaat uang (value for money).

Metode Penilaian Resiko

Dalam menentukan risiko yang paling besar kemungkinannya terjadi serta pengaruhnya yang paling signifikan terhadap kelangsungan proyek KPBU ini, disusun suatu kriteria penilaian risiko yang dilihat dari peringkat kemungkinannya untuk terjadi dan peringkat konsekuensi risiko.

Peringkat Kemungkinan Terjadi Risiko

Peringkat Keterangan
Hampir Pasti Terjadi Ada kemungkinan kuat risiko ini akan terjadi sewaktu-waktu seperti yang telah terjadi di proyek lainnya.
Mungkin Sekali Terjadi Risiko mungkin terjadi sewaktu-waktu karena adanya riwayat kejadian kasual
Mungkin  Terjadi Tidak diharapkan, tapi ada sedikit kemungkinan terjadi sewaktu-waktu
Jarang Terjadi Sangat tidak mungkin, tetapi dapat terjadi dalam keadaan luar biasa. Bisa terjadi, tapi mungkin tidak akan pernah terjadi
Hampir Tidak Mungkin Terjadi Risiko ini secara teoritis dimungkin terjadi, namun belum pernah didapati terjadi di proyek lainnya.

Pemeringkatan Dampak Risiko

Peringkat Dampak Keuangan Keselamatan Penundaan Kinerja Hukum Politik
Tidak Penting Varian <5% terhadap anggaran Tidak ada atau hanya cidera pribadi, Pertolongan Pertama dibutuhkan tetapi tidak ada penundaan hari < 3 bulan Sesuai tujuan, tetapi ada dampak kecil terhadap unsur-unsur non-inti Pelanggaran Kecil Perubahan dan dampak kecil terhadap proyek
Ringan Varian 5%-10% terhadap anggaran Cidera ringan, perawatan medis dan penundaan beberapa hari 3 – 6 bulan Sesuai tujuan, tetapi ada kerugian sementara dari sisi layanan, atau kinerja unsur-unsur non-inti yang berada dibawah standar Pelanggaran prosedur/ pedoman internal Perubahan memberikan dampak yang signifikan terhadap proyek
Sedang Varian 10%-20% terhadap anggaran Cidera: Kemungkinan rawat inap dan banyak penundaan hari 6 – 12 bulan Kerugian sementara unsur proyek inti, atau standar kinerja unsur inti yang menjadi berada di bawah standar Pelanggaran kebijakan/ peraturan pemerintah Ketidakstabilan situasi berdampak pada keuangan dan kinerja.
Besar Varian 20%_30% terhadap anggaran Cacat sebagian atau penyakit jangka panjang atau beberapa cidera serius 1 – 2 tahun Ketidakmampuan untuk memenuhi unsur inti, dan secara signifikan menjadikan proyek dibatalkan Pelanggan lisensi atau hukum, pengenaan penalti Ketidakstabilan berdampak pada keuangan dan kinerja
Serius Varian 30%-50% terhadap anggaran Kematian atau cacat permanen >2 tahun Kegagalan total proyek Intervensi peraturan atau tuntutan, pengenaan penalti Ketidakstabilan menyebabkan penghentian layanan

Metode penilaian risiko tersebut akan dimasukaan dalam matriks peta risiko sebagai berikut:

Kemungkinan KONSEKUENSI
Tidak Penting Ringan Sedang Besar Serius
Hampir Pasti Menengah Menengah Menengah Menengah Tertinggi
Mungkin Sekali Ringan Menengah Menengah Menengah Tertinggi
Mungkin Ringan Menengah Menengah Menengah Menengah
Jarang Ringan Ringan Menengah Menengah Menengah
Hampir Tidak Mungkin Ringan Ringan Ringan Menengah Menengah

Mitigasi Risiko

Mitigasi risiko bertujuan untuk memberikan cara mengelola risiko terbaik dengan mempertimbangkan kemampuan pihak yang mengelola risiko dan juga dampak risiko. Mitigasi risiko ini berisi rencana-rencana yang harus dilakukan pemerintah dalam kondisi preventif, saat risiko terjadi, ataupun paska terjadinya risiko. Mitigasi risiko ini dapat berupa penghapusan risiko, meminimalkan risiko, mengalihkan risiko melalui asuransi atau pihak ketiga lainnya, atau menerima/menyerap risiko tersebut.

Tabel berikut adalah contoh matriks risiko proyek KPBU sektor persampahan yang disusun oleh PT. Penjaminan Infrastruktur Indonesia (Persero). Matriks risiko di bawah ini mengacu pada suatu proyek dengan kontrak BOT.

Matriks Risiko untuk BOT Air Minum

Kategori Risiko dan Peristiwa Risiko Deskripsi PJPK BU Bersama Strategi Mitigasi Sesuai Best Practice Kondisi Spesifik terkait Alokasi Risiko
1. RISIKO LOKASI
Keterlambatan dan kenaikan biaya pembebasan lahan Keterlambatan dan kenaikan biaya akibat proses pembebasan lahan yang berkepanjangan Pemerintah menyediakan lahan proyek sebelum proses pengadaan Badan Usaha Kebutuhan lahan lokasi intake, IPA, dan jaringan transmisi sudah diidentifikasi dengan jelas
Lahan tidak dapat dibebaskan Kegagalan perolehan lokasi lahan proyek karena proses pembebasan lahan yang sulit Status hukum lahan dan prosedur yang jelas dalam pembebasan lahan proyek Kejelasan status hukum dan tata ruang lahan bisa menjadi kendala
Proses pemukiman kembali yang rumit Keterlambatan dan kenaikan biaya karena rumitnya isu proses pemukiman kembali Kompensasi yang wajar dan komunikasi yang baik dengan pihak yang terkena dampak Kebutuhan lahan proyek jenis ini biasanya tidak luas dan dampak sosial relatif kecil
Risiko status tanah Kepemilikan sertifikat tanah ganda ditemukan saat proyek dilaksanakan Melaksanakan validasi status kepemilikan lahan; dukungan dari otoritas terkait (BPN, Dinas Kependudukan)
Kesulitan pada kondisi lokasi yang tak terduga Keterlambatan karena ketidakpastian kondisi lokasi Data historis penggunaan lahan dan penyelidikan tanah Karena lahan tidak luas risiko geoteknis relatif bisa dikelola
Keterbatasan ruang kerja/working space konstruksi Terkait penyediaan lahan untuk ruang kerja pada masa konstruksi Metode konstruksi yang baik; sosialisasi oleh Pemerintah Bila ada penolakan masyarakat Pemerintah dapat membantu
Kerusakan artefak dan barang kuno pada lokasi Data historis penggunaan lahan dan penyelidikan tanah
Gagal menjaga keselamatan dalam lokasi Implementasi prosedur keselamatan kerja yang baik
Kontaminasi/polusi ke lingkungan lokasi Kesesuaian dengan studi Amdal yang baik
2. RISIKO DESAIN, KONSTRUKSI, DAN UJI OPERASI
Ketidakjelasan spesifikasi output Keterlambatan dan kenaikan biaya akibat spesifikasi output tidak jelas Klarifikasi saat proses tender; kapasitas desain yang baik Spesifikasi output PJPK harus mengacu ke best practice
Kesalahan desain Menyebabkan ekstra/revisi desain yang diminta operator Konsultan desain yang berpengalaman dan baik Biasanya teridentifikasi saat uji operasi teknis
Terlambatnya penyelesaian konstruksi Dapat termasuk terlambatnya pengembalian akses lokasi Kontraktor yang handal dan klausul kontrak yang standar
Kenaikan biaya konstruksi Kesepakatan faktor eskalasi harga tertentu dalam kontrak
Risiko uji operasi Kesalahan estimasi waktu/ biaya dalam uji operasi teknis Koordinasi kontraktor dan operator yang baik
3. RISIKO SPONSOR
Kinerja subkontraktor yang buruk Proses pemilihan subkontraktor yang kredibel
Default subkontraktor Proses pemilihan subkontraktor yang kredibel
Default Badan Usaha Default Badan Usaha yang mengarah ke terminasi/step-in oleh financier Konsorsium didukung sponsor yang kredibel dan solid
Default sponsor proyek Default pihak sponsor (atau anggota konsorsium) Proses PQ untuk memperoleh sponsor yang kredibel
4. RISIKO FINANSIAL
Kegagalan mencapai financial close Tidak tercapainya financial close karena ketidakpastian kondisi pasar Koordinasi yang baik dengan

potential lenders

Bisa juga karena conditions precedence tidak terpenuhi
Risiko struktur finansial Inefisiensi karena struktur modal proyek yang tidak optimal Konsorsium didukung sponsor

/lender yang kredibel

Risiko nilai tukar mata uang Fluktuasi (non ekstrim) nilai tukar mata uang Instrumen lindung nilai; pembiayaan dalam Rupiah Bisa dibagi dengan Pemerintah apabila fluktuasinya ekstrim
Risiko tingkat inflasi Kenaikan (non ekstrim) tingkat inflasi terhadap asumsi dalam life-cycle cost Faktor indeksasi tarif; rebasing tarif Bisa dibagi dengan Pemerintah apabila fluktuasinya ekstrim
Risiko suku bunga Fluktuasi (non ekstrim) tingkat suku bunga Lindung nilai tingkat suku bunga Bisa dibagi dengan Pemerintah apabila fluktuasinya ekstrim
Risiko asuransi (1) Cakupan asuransi untuk risiko tertentu tidak lagi tersedia di pasaran Konsultansi dengan spesialis/broker asuransi Khususnya untuk cakupan asuransi risiko terkait keadaan kahar
Risiko asuransi (2) Kenaikan substansial tingkat premi terhadap estimasi awal Konsultansi dengan spesialis/broker asuransi
5. RISIKO OPERASI
Ketersediaan fasilitas Akibat fasilitas tidak bisa terbangun Kontraktor yang handal
Buruk atau tidak tersedianya layanan Akibat fasilitas tidak bisa beroperasi Operator yang handal; spesifikasi output yang jelas
Aksi industri Aksi mogok, larangan kerja, dsb Kebijakan SDM dan hubungan industrial yang baik Bisa oleh staf operator, subkontraktor atau penyuplai
Risiko sosial dan budaya lokal Risiko yang timbul karena tidak diperhitungkannya budaya atau kondisi sosial masyarakat setempat dalam implementasi proyek Menerapkan program pengembangan masyarakat yang people-oriented; pemberdayaan masyarakat
Kegagalan manajemen proyek Kegagalan atau ketidakmampuan Badan Usaha dalam mengelola operasional Proyek Kerjasama Menyusun rencana manajemen operasi dan dijalankan secara profesional
Kegagalan kontrol dan monitoring proyek Terjadinya penyimpangan yang tidak terdeteksi akibat kegagalan kontrol dan monitoring oleh Badan Usaha atau PJPK Menyusun rencana kontrol dan monitoring serta evaluasi berkala terhadap efektivitas rancangan dan pelaksanaannya
Kenaikan biaya O&M Akibat kesalahan estimasi biaya O&M atau kenaikan tidak terduga Operator yang handal; faktor eskalasi dalam kontrak
Kesalahan estimasi biaya life cycle Kesepakatan/kontrak dengan supplier seawal mungkin
Kenaikan biaya energi karena inefisiensi unit Kualitas dan spesifikasi unit yang baik
Tidak teraturnya ketersediaan utilitas Tindakan antisipasi: fasilitas back up listrik/utilitas lainnya Biasanya sudah harus diantisipasi sedini mungkin
Berkurangnya kuantitas input Defisit air baku karena alasan dalam kendali sektor publik Regulasi dan koordinasi yang baik antar instansi terkait
Menurunnya kualitas input Kualitas air baku turun karena alasan dalam kendali sektor publik Regulasi dan koordinasi yang baik antar instansi terkait
Ketidakpastian kontinuitas input Regulasi dan koordinasi yang baik antar instansi terkait Tergantung lokasi sumber air baku
Berkurangnya kuantitas output Operator yang handal; mekanisme penalti
Menurunnya kualitas output Operator yang handal; mekanisme penalti
6. RISIKO PENDAPATAN
Penurunan volume permintaan output proyek Mengakibatkan penurunan pendapatan penjualan air dan defisit bagi PJPK Program sosialisasi yang baik; program penurunan NRW; pengelolaan keuangan PDAM
Kegagalan penetapan awal tarif Akibat user affordability and willingness di bawah tingkat kelayakan Dukungan kelayakan (VGF); regulasi yang mendukung Regulasi yang mendukung dapat berbentuk Perda
Penyesuaian tarif periodik terlambat Pada indeksasi tarif terhadap tingkat inflasi Kinerja operasi yang baik; regulasi yang mendukung Regulasi yang mendukung dapat berbentuk Perda
Tingkat penyesuaian tarif lebih rendah dari proyeksi Khususnya setelah indeksasi tarif dan rebasing tarif Kinerja operasi yang baik; regulasi yang mendukung Regulasi yang mendukung dapat berbentuk Perda
Kesalahan perhitungan estimasi tarif Survai user affordability and willingness yang handal
7. RISIKO KONEKTIVITAS JARINGAN
Risiko jaringan (1) Kebocoran/kontaminasi dalam jaringan eksisting Standar kinerja operasi dan pengawasan yang baik
Risiko jaringan (2) Ingkar janji otoritas untuk membangun dan memelihara jaringan yang diperlukan Pemahaman kontrak yang baik oleh sektor publik
Risiko jaringan (3) Ingkar janji otoritas untuk membangun fasilitas penghubung Pemahaman kontrak yang baik oleh sektor publik
Risiko jaringan (4) Ingkar janji otoritas untuk tidak membangun fasilitas pesaing Pemahaman kontrak yang baik oleh sektor publik
Risiko jaringan (5) Keterbatasan pengelolaan jaringan distribusi yang dibangun Badan Usaha Peningkatan kapasitas pengelolaan jaringan distribusi
8. RISIKO INTERFACE
Risiko interface (1) Output tidak terserap di awal periode operasional Klausul ‘take or pay’ dalam perjanjian jual beli air
Risiko interface (2) Ketimpangan kualitas pekerjaan dukungan pemerintah dan yang dikerjakan Badan Usaha Pekerjaan perbaikan oleh pihak yang kualitas pekerjaannya lebih rendah
Risiko interface (3) Rework yang substantial terkait perbedaan standar / metode layanan yang digunakan Kesepakatan standar /metode yang akan diterapkan para pihak sedini mungkin
9. RISIKO POLITIK
Mata uang asing tidak dapat dikonversi Mata uang asing tidak tersedia dan/atau tidak bisa dikonversi dari Rupiah ·    Pembiayaan domestik

·    Akun pembiayaan luar negeri

·    Penjaminan dari bank sentral

Mata uang asing tidak dapat direpatriasi Mata uang asing tidak bisa ditransfer ke negara asal investor ·    Pembiayaan domestik

·    Akun pembiayaan luar negeri

·    Penjaminan dari bank sentral

Risiko ekspropriasi Nasionalisasi/pengambilalihan tanpa kompensasi (yang memadai) ·    Mediasi, negosiasi

·    Asuransi Risiko Politik

·    Penjaminan pemerintah

Perubahan regulasi (dan pajak) yang umum Bisa dianggap sebagai risiko bisnis
Perubahan regulasi (dan pajak) yang diskriminatif dan spesifik Berbentuk kebijakan pajak oleh otoritas terkait (pusat atau daerah) ·    Mediasi, negosiasi

·    Asuransi Risiko Politik

·    Penjaminan pemerintah

Selain memiliki provisi kontrak yang jelas termasuk kompensasinya
Keterlambatan perolehan persetujuan perencanaan Hanya jika dipicu keputusan sepihak /tidak wajar dari otoritas terkait Provisi kontrak yang jelas termasuk kompensasinya
Gagal/terlambatnya perolehan persetujuan Hanya jika dipicu keputusan sepihak /tidak wajar dari otoritas terkait Provisi kontrak yang jelas termasuk kompensasinya Biasanya terkait isu selain perencanaan
Keterlambatan perolehan akses ke lokasi proyek Hanya jika dipicu keputusan sepihak /tidak wajar dari otoritas terkait Provisi kontrak yang jelas termasuk kompensasinya
Risiko parastatal (1) Wanprestasi kewajiban kontraktual PJPK sebagai offtaker ·    Asuransi Risiko Politik

·    Penjaminan pemerintah

Risiko parastatal (2) Akibat privatisasi offtaker atau default PJPK ·    Asuransi Risiko Politik

·    Penjaminan pemerintah

10. RISIKO KAHAR (FORCE MAJEURE)
Bencana alam Asuransi, bila dimungkinkan
Force majeure politis Peristiwa perang, kerusuhan, gangguan keamanan masyarakat Asuransi, bila dimungkinkan
Cuaca ekstrim Asuransi, bila dimungkinkan
Force majeure berkepanjangan Jika di atas 6-12 bulan, dapat mengganggu aspek ekonomis pihak yang terkena dampak Setiap pihak dapat mengakhiri kontrak KPBU dan memicu terminasi dini Terutama bila asuransi tidak tersedia untuk risiko tertentu
11. RISIKO KEPEMILIKAN ASET
Risiko nilai aset turun Kebakaran, ledakan, dsb Asuransi
Transfer aset setelah kontrak KPBU berakhir Studi kelayakan aset yang baik dan lengkap (dalam Pra-FS)