Bab 7. Kajian Bentuk KPBU

Bab 6. Kajian Lingkungan dan Sosial
27/11/2017
Bab 8. Kajian Risiko
27/11/2017

Pada bab ini akan dibahas alternatif-alternatif skema kerjasama yang dapat diterapkan sampai dengan penetapan skemanya. Beberapa hal yang dikaji dalam bab ini meliputi:

Alternatif Skema Kerjasama

Pada sub-bab ini berisikan karakteristik alternatif-alternatif skema KPBU berikut dengan keuntungan dan kerugian/kelemahan dari masing-masing alternatif tersebut.

Pemilihan Skema KPBU

Berisikan pertimbangan-pertimbangan dalam menetapkan skema KPBU yang akan diterapkan. Beberapa pertimbangan dapat meliputi pertimbangan hukum dan peraturan, ketersediaan infrastruktur yang ada, waktu untuk ketersediaan infrastruktur, kemampuan (teknis dan finansial) dari Pemerintah Daerah atau PDAM, optimalisasi investasi oleh Badan Usaha, serta pembagian risikonya dan kepastian adanya pengalihan keterampilan manajemen dan teknis dari sektor swasta kepada sektor publik.

Sub-bab ini juga menguraikan skema struktur kelembagaan yang diikuti dengan penjelasan alur tanggungjawab masing-masing lembaga.

  1. Lingkup Kerjasama KPBU
    Berisikan pembagian tanggung jawab antara PJPK dan Badan Usaha dalam sistem penyediaan air minum yang akan dikerjasamakan. Dalam menentukan lingkup kerjasama ini perlu melihat peraturan, khususnya Rancangan Peraturan Pemerintah tentang Sistem Penyediaan Air Minum yang saat ini sedang disusun. Pada intinya adalah bahwa tidak bisa seluruh sistem penyediaan air minum dikelola oleh Badan Usaha.
    Dalam lingkup ini juga perlu diuraikan faktor-faktor kritis yang akan menentukan suksesnya proyek KPBU, seperti misalnya komitmen, proses pengadaan yang efektif, alokasi dan manajemen risiko, kejelasan spesifikasi keluaran, dan sebagainya.
  2. Jangka waktu dan pentahapan KPBU
    Penentuan jangka waktu mempertimbangkan tingkat dan jangka waktu pengembalian investasi yang ditanamkan Badan Usaha. Untuk pembangunan SPAM skala besar seringkali perlu dilakukan pentahapan dengan memperhatikan kemampuan dari PDAM dalam memasarkan, menyediakan dana dan memasang instalasi sambungan rumah serta mempertimbangkan kemampuan dan ketertarikan penyerapan masyarakat.
  3. Keterlibatan pihak ketiga
    Keterlibatan pihak ketiga perlu diidentifikasi termasuk peran, tanggung jawab, kompensasi /pembayaran (jika ada), serta kebutuhan perjanjian. Beberapa pihak ketiga diantaranya penyedia air baku, institusi penjaminan, dan lainnya.
  4. Penggunaan Aset Daerah
    Dalam sub-bab ini akan dikaji aset-aset pemerintah daerah atau PDAM apa saja yang akan digunakan untuk kerjasama ini dan bagaimana sistem pemakaian yang akan diterapkan. Aset ini juga termasuk dengan aset-aset institusi lain seperti misalnya aset jalan tol, aset jalan kereta api, dan sebagainya.
  5. Alur Finansial Operasional
    Pada sub-bab ini diuraikan mengenai aliran keuangan yang direncanakan setelah proyek KPBU diimplementasikan. Perlu dipertimbangkan pembentukan badan khusus pengelola proyek dari sisi PJPK dengan mempertimbangkan legalitas badan usaha tersebut dalam mengelola alur finansial operasional. Badan usaha tersebut bisa saja dalam bentuk Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) atau bentuk lainnya.
    Uraian alur finansial ini adalah mulai dari penarikan tarif dari masyarakat sampai dengan bagaimana membayar biaya air curah kepada SPC atau biaya air baku kepada penyedia air baku.
  6. Status kepemilikan aset dan pengalihan aset
    Sub-bab ini menguraikan status kepemilikan aset selama jangka waktu perjanjian kerjasama dan mekanisme pengalihan aset setelah berakhirnya perjanjian kerjasama.